Pengalaman mengenal "KKN"

Pengalaman mengenal "KKN"




Kuliah Kerja Nyata? 
Pertama mendengar istilah KKN atau yang memiliki kepanjangan dari Kuliah Kerja Nyata terngiang sebuah pertanyaan di dalam benak saya. Mengapa teman saya dari SMA yang sama dan sedang menempuh pendidikan di Universitas lain setelah saya tanyakan apakah di kampusnya terdapat KKN? Mereka dengan bahagianya menjawab tidak. Awalnya saya berfikir mereka beruntung tidak ada kegiatan KKN. Mereka tidak perlu memikirkan bagaimana kehidupannya nanti apakah terasa nyaman atau tidak dibandingkan dengan kehidupannya saat ini, tidak perlu mengisi hari libur kuliahnya dengan kegiatan yang masih terikat dengan kampus dan tidak perlu beban tugas pada
semester selanjutnya bertambah karena harus menulis laporan KKN yang telah mereka jalani. Mereka dapat menghabiskan waktu libur perkuliahannya dengan berlibur bersama keluarga yang mereka cintai ataupun mengisi waktu liburannya dengan travelling[1] bersama teman. Hal tersebut terlintas dari benak saya yang belum mengetahui seperti apakah KKN itu. Namun pemikiran tersebut berubah setelah saya menanyakan seperti apakah pengalaman senior saya pada saat KKN tahun lalu. Jawaban senior saya membuat saya semakin penasaran apakah KKN itu seperti yang saya pikirkan sebelumnya atau justru sesuatu yang patut ditunggu untuk segera dijalani?. Hari demi hari berlalu dan tibalah pada masa pendaftaran. Pendaftaran KKN dilakukan secara online dengan menggunaan akun AIS dan diwajibkan untuk calon peserta KKN untuk mengisikan rencana kegiatan yang akan dikerjakan nanti. Pada saat itu saya hanya mengisi kegiatan yang sama dengan teman-teman saya sejurusan dan saat pengumuman anggota tidak ada satupun dari kelompok saya yang berasal dari jurusan yang sama yaitu Sistem Informasi. Namun bukan berarti dari 15 orang yang terdiri dari 9 orang wanita dan 7 pria tidak ada yang saya kenal. Di dalam kelompok saya terdapat teman saya pada saat SMA yaitu Vinda Rosalia. Pada saat pertamakali pembuatan WhatsApp Group[2] dialah yang memasukan saya menjadi anggota karena telah mempunyai nomor saya sebelumnya. Selain dari SMA yang sama, terdapat satu orang anggota yang berasal dari Fakultas yang sama dengan saya yaitu Ulfa Fitriana dari jurusan Agribisnis. Meskipun saya tidak mengenal nama tersebut namun saya yakin pernah melihat dia ketika di Fakultas. Hal tersebut ternyata benar. Saya kerap melihat dia di Dapur Seni. Dapur Seni adalah UKM UIN yang markasnya berada di Fakultas Sains dan Teknologi. Pertemuan pertama Kelompok KKN 119 dilakukan di dekat Fakultas Dirasat Islamiyah dan di tempat tersebut kami semua berkumpul pertama kalinya untuk mengenal nama dan wajah masing-masing anak. Namun ada kejadian unik yang terjadi pada saat hari itu. Kebetulan lokasi kami berkumpul tidak hanya ada satu kelompok saja. Banyak kelompok yang hari tersebut mengadakan pertemuan perdana dengan kelompoknya masing-masing. Awalnya saya dan Raga yang sudah berada di lokasi titik kumpul. Meskipun sudah diberitahu di mana posisi kami berdua dan Raga sudah memfoto diri saya sedang duduk untuk memudahkan yang lain menemukan kami berdua. Namun masih banyak anggota kelompok kami yang kebingungan untuk menemukan keberadaan saya dan Raga. Tidak berselang lama datang sesosok wanita yang membawa secarik kertas dengan tulisan besar “Kelompok 119 di sini”. Wanita tersebut adalah Sandra dan dalam hati saya berkata “Niat banget ini anak”. Berkat hal tersebut membuat anggota kelompok kami bertemu sejumlah 15 anak dan sedangkan satu anak berhalangan hadir. Dari pertemuan pertama kami menentukan siapakah yang dipilih untuk dijadikan menjadi ketua kelompok. Metode pemungutan suara dilakukan untuk menentukan siapakah ketuanya. Akhirnya Raga Arrizallu Panjaitan yang menjadi Ketua Kelompok KKN 119 karena namanya lebih banyak dipilih oleh anggota Kelompok KKN 119.
Pengumuman lokasi Desa dan Dosen Pembimbing menjadi sebuah penentuan apakah Desa yang akan kami tempati tergolong enak atau tidak. Terpilihnya Desa Bantar Karet Kecamatan Naggung menjadi sebuah keharusan bagi kami untuk menerima keputusan yang telah PPM buat. Menjadi sebuah misteri seperti apakah keadaan Desa di sana. Melalui Google Maps[3] saya mencoba mencari tahu seberapa jauh jarak dari rumah saya ke desa tersebut. Dari sana tertera bahwa jaraknya adalah 78KM.
Pada saat pertemuan kedua menjadi penentuan di mana divisi yang akan saya naungi. Dari berbagai divisi yang ada saya dipercaya untuk menjadi Kordinator Divisi Acara. Anggota divisi ini terdiri dari tiga orang. Selain saya sendiri ada Sandra Gita A R dan Azmi Fathoni Arja.
            Kelompok KKN 119 hanyalah sebuah nomor urut dari 170 Kelompok KKN yang ada. Kelompok KKN 119 tidak ada artinya karena belum mempunyai makna apapun. Maka dari itu saya dan teman-teman melakukan pengajuan sebuah nama yang akan menjadi identitas kelompok kami. Dengan mempertimbangkan banyak nama yang mempunyai makna masing-masing. Terpilihlah nama Grove yang mimiliki kepanjangan dari “Give the Value of Education”.


[1] Jalan-jalan ke tempat yang baru
[2] Aplikasi untuk menyatukan banyak orang pada satu kelompok obrolan
[3] Aplikasi peta online untuk melihat peta lokasi

0 komentar :

Posting Komentar